Rabu, 18 April 2012

Model Pembelajaran Berbicara Dengan Cara Bertanya

Menurut saya model Pembelajaran Bertanya merupakan salah satu bagian dari Model Pembelajaran Berbicara pada mata pelajaran Bahasa Indonesia. Model pembelajaran ini kebalikan daripada model pembelajaran Menjawab Pertanyaan. Karena pada model pembelajaran ini siswa dilatih untuk menguasai kemampuan bertanya bukan menjawab pertanyaan. Bagi siswa tentu bukanlah hal yang mudah.
Ada beberapa kendala yang layak mendapatkan perhatian dari guru sehubungan dengan kemampuan bertanya siswa, di antaranya :
1)      Siswa kesulitan bertanya karena merasa malu/kurang percaya diri.
2)      Siswa kesulitan bertanya karena belum sepenuhnya menguasai materi sehingga tidak tahu apa yang mesti ditanyakan.
3)      Siswa kesulitan bertanya karena merasa takut/khawatir nanti dianggap bodoh.
4)      Siswa kesulitan bertanya karena kesulitan mengungkapkan kalimat pertanyaan meskipun sebenarnya  ia tahu apa yang belum diketahuinya.
Untuk mengatasi kendala seperti di atas guru dapat mengambil beberapa langkah misalnya :
1)      Memberikan reward kepada siswa yang berani bertanya.
2)      Guru mengusahakan agar materi pembelajaran dapat dikuasai siswa secara optimal.
3)      Pemahaman bahwa bertanya bukan berarti bodoh, tetapi salah satu kemampuan berbicara.
4)      Peningkatan kemampuan bertanya siswa melalui contoh-contoh kalimat pertanyaan. Misalnya penggunaan partikel kah dan Kata Tanya (apa, siapa, mengapa, bagaimana, dimana, bilamana, berapa).
Metode yang dirasakan paling tepat adalah bertanya. Guru dapat memotivasi siswa agar mau dan mampu bertanya antara lain dengan cara melontarkan pertanyaan-pertanyaan pancingan terlebih dahulu, lalu secara bertahap tanpa terasa biarkan siswa mendominasi bertanya.
Salah satu contoh langkah-langkah pembelajarannya, sebagai berikut :
  1. Guru menjelaskan tujuan pembelajaran.
  2. Siswa dibentuk menjadi beberapa kelompok.
  3. Guru merangsang motivasi siswa dengan menceritakan sebuah peristiwa yang menarik namun cerita tersebut tidak sempurna.
  4. Siswa diberi kesempatan mengajukan pertanyaan sehubungan dengan isi cerita guru tadi yang sengaja dibuat belum sempurna sehingga menimbulkan tanda tanya/keingintahuan siswa.
  5. Kelompok yang mengajukan pertanyaan secara benar akan mendapatkan poin (untuk merangsang persaingan/kompetisi siswa).
  6. Kelompok yang terbanyak mendapatkan poin menjadi pemenang dan diberi reward.
  7. Evaluasi.
  8. Kesimpulan.
Kemampuan membuat desain/merancang pembelajaran merupakan fokus kompetensi yang harus Bapak/Ibu kuasai sebagai seorang guru. Alasannya, kemampuan mendesain pembelajaran sangat berkaitan langsung dengan pelaksanaan tugas Bapak/Ibu di lapangan sebagai pemegang kendali proses pembelajaran yang berlangsung di dalam kelas. Tidak ada metode pembelajaran Berbicara yang sempurna, maka Guru dituntut untuk mampu memilah dan memilih serta menentukan media dan metode yang paling relevan dengan tujuan dan situasi yang dihadapinya di kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar