Selasa, 06 Maret 2012

RUANG KREATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Hakikat pengajaran dan pembelajaran bahasa sertakemampuan guru dalam menggunakan metode, pendekatan, dan strategi pengajaran. Mustahil bagi seorang guru bahasa memasuki ruang kelas tanpa persiapan mengajar, tentang pengetahuan tentang anak didiknya, dan tanpa sejuml;ah jurus dalam menyampaikan materi ajar. Pengajaran bahasa indonesia yang hanya mengandalkan lembaran kerja siswa, tugas yang tanpa arahan, ceramah yang terus-menerus, atau pengajaran minus media dari sudut pandang maupun bukan strategi atau teknik yang dapat menarik perhatian siswa. ketidakmampuan siswa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan dipasok oleh lemahnya guru dalam memandu dan menyajikan pengajaran menulis secara menarik.
Sebagaimana Putu Wijaya nyatakan ketikan menjelaskan kondisi pengajaran sastra di sekolah,yang diibaratkan sebagai rumah sederhana yang cocok untuk etalase laporan administratif, bahwa sudah dilaksanakan pembangunan. Fakta menunjukan bahwa nilai UN secara nasional rendah, belum lagi tanda-tanda yang sifatnya kualitatif: kemampuan menulis, kemampuan membaca, kemampuan berbicara dan kemampuan menyimak. Melihat tujuan pengajaran bahasa, misalnya dijenjang SMA: (1) Berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik lisan maupun tulis;(2) Menghargai dan bangga menggunakan bahsa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;(3) Memahami bahsa indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;(4) Menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosila;(5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; (6) Menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia indonesia.
Sekedar menguatkan argumentasi di atas kuantitatif berdasarkan laporan pihak lain perlu kita cermati, seperti laporan  PISA (2000) tentang membaca. Selain negara anggota EOCD, PISA juga melibatkan negara-negara mitra, di antaranya Indonesia dengan sekitar 10.000 siswa yang berprestasi berbagai tingkatan yaitu lima untuk membaca dan masing-masing enam untuk matematika dan sains.
Pengajaran bahasa dilakukan dalam rangka melahirkan pembelajaran-pembeljaran yang memahami bagaimana tugas belajar sehingga mereka secara mandiri dapat belajar secara baik. Menurut Harmer (1998)pembelajaran mahasiswa bukan pekerjaan mudah, babnyak kesulitan yang ditemukan pembelajar, baik dipengaruhi bagaimana pengalaman belajar para siswa, bagaimana keberadaan mereka diruang kelas, bagaimana variasi metode yang digunakan ataupun menangani siswa yang berbeda. Dalam kelas klasika guru tidakl pernah mengidentifikasi keaiapan siswa (entery behavioring), dan siswa memilki tipe belajar yang berbeda (auditorial, visual, kinestetik). Untuk membedakan siswa yang baik atau tidak dapat dilihat bagaimana siswa mnegerjakan tugas disekolah. mengapa dioa mengerjakan tugas sementara temannya lainnya tidak, mengapa ada siswa yang sukses sementara teman yang lainnya tidak, apakah menyelesaikan tugas membuat perbedaan cara berfikir para siswa?
Tidak mudah menjadi seorang guru, bukan hanya mentranfer materi kepada peserta didiknya namun ada tugas yang lebih utama yakni membangun pribadi pembelajar yang memahami bagaiman dia harus belajar. Harmer (1998:10) menerjemahkan secara rinci karakter pembelajaran yang baik :
  1. Memiliki kemauan untuk mendengar
  2. Memilki kemauan  untuk mencoba
  3. Memiliki kemauan untuk bertanya
  4. Memilki kemauan untuk berfikir tentang cara belajar
  5. Kemauan untuk menerima perbaikan.
Ruang Kreatif Pengajaran Bahasa
Ruang kreatif akan memunculkan sikap beranibereksperimen dan tidak takut melakukan kesalahan.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar