Sabtu, 17 Maret 2012

Putusan Dirjen Dikti Timbulkan Polemik di Badan Pendidikan

Sejalan dengan kemajuan zaman, semua pihak berharap kepada mahasiswa untuk meningkatkan kualitas keilmuanya dengan mewajibkan kepada mahasiswa S1, S2, S3 khususnya untuk menciptakan jurnal ilmiah sebagai syarat kelulusan. Seperti yang telah di tentukan oleh Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Ditjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan surat edaran bernomor 152/E/T/2012 terkait publikasi karya ilmiah. Surat tertanggal 27 Januari 2012 ini ditujukan kepada Rektor/Ketua/Direktur PTN dan PTS seluruh Indonesia. Surat yang ditandatangani Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Djoko Santoso itu memuat tiga poin yaitu 

  1. Untuk lulus program Sarjana harus menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah. 
  2. Untuk lulus program Magister harus telah menghasilkan makalah yang terbit pada jurnal ilmiah nasional, diutamakan yang terakreditasi Dikti. 
  3. Untuk lulus program Doktor harus telah menghasilkan makalah yang diterima untuk terbit pada jurnal internasional. syarat lulus bagi mahasiswa program S-1, S-2, dan S-3 untuk memublikasikan karya ilmiahnya. 

Dengan adanya keputusan tersebut yang pada akhirnya menuaikan pro dan kontra dari setiap kalangan mahasiswa. Yang mereka anggap keputusan Ditjen Dikti yang terkesan gegabah dalam memutuskan suatu keputusan tresebut. Namun menurut saya, keputusan yang telah diputuskan tersebut sudah tepat. Karena dengan diwajibkannya pembuatan karya ilmiah kepada setiap mahasiswa khususnya S1, S2, dan S3 kita dapat mengetahui potensi kemampuan setiap mahasiswa. Agar tercipta ilmuan yang bersifat pribadi, baik, berkarakter dan juga berkualitas. Selain itu diwajikannya pembuatan jurnal ilmiah juga dapat menjadi suatu pengalaman/pembelajaran tersendiri bagi mahasiswa tersebut. Untuk meningkatkan produktivitas jurnal ilmiah di Indonesia yaitu dengan menyediakan fasilitas yang memadai (terutama anggaran). Bagi dosen dan mahasiswa yang karyanya terpublikasi di jurnal nasional atau internasional maka harus disediakan honor yang layak,” 

Dalam pembuatan Sebuah karya ilmiah seperti yang telah ditentukan memang terkesan sangat memaksa namun dibalik semua itu pembuatan jurnal ilmiah dapat menjadikan kita sebagai pribadi yang bertanggung jawab dengan apa yang telah kita putuskan dan kita ucapkan. Seperti yang disebutkan bahwa saat ini jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Indonesia masih sangat rendah. Bahkan, hanya sepertujuh dari jumlah karya ilmiah perguruan tinggi di Malaysia. Oleh karena itu, ketentuan ini bertujuan untuk meningkatkan jumlah karya ilmiah di Indonesia.

Selasa, 06 Maret 2012

RUANG KREATIF DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Hakikat pengajaran dan pembelajaran bahasa sertakemampuan guru dalam menggunakan metode, pendekatan, dan strategi pengajaran. Mustahil bagi seorang guru bahasa memasuki ruang kelas tanpa persiapan mengajar, tentang pengetahuan tentang anak didiknya, dan tanpa sejuml;ah jurus dalam menyampaikan materi ajar. Pengajaran bahasa indonesia yang hanya mengandalkan lembaran kerja siswa, tugas yang tanpa arahan, ceramah yang terus-menerus, atau pengajaran minus media dari sudut pandang maupun bukan strategi atau teknik yang dapat menarik perhatian siswa. ketidakmampuan siswa menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan dipasok oleh lemahnya guru dalam memandu dan menyajikan pengajaran menulis secara menarik.
Sebagaimana Putu Wijaya nyatakan ketikan menjelaskan kondisi pengajaran sastra di sekolah,yang diibaratkan sebagai rumah sederhana yang cocok untuk etalase laporan administratif, bahwa sudah dilaksanakan pembangunan. Fakta menunjukan bahwa nilai UN secara nasional rendah, belum lagi tanda-tanda yang sifatnya kualitatif: kemampuan menulis, kemampuan membaca, kemampuan berbicara dan kemampuan menyimak. Melihat tujuan pengajaran bahasa, misalnya dijenjang SMA: (1) Berkomunikasi secara efektif dan efesien sesuai dengan etika yang berlaku, baik lisan maupun tulis;(2) Menghargai dan bangga menggunakan bahsa indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa negara;(3) Memahami bahsa indonesia dan menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk berbagai tujuan;(4) Menggunakan bahasa indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, serta kematangan emosional dan sosila;(5) Menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; (6) Menghargai dan membanggakan sastra indonesia sebagai khazanah budaya dan intelektual manusia indonesia.
Sekedar menguatkan argumentasi di atas kuantitatif berdasarkan laporan pihak lain perlu kita cermati, seperti laporan  PISA (2000) tentang membaca. Selain negara anggota EOCD, PISA juga melibatkan negara-negara mitra, di antaranya Indonesia dengan sekitar 10.000 siswa yang berprestasi berbagai tingkatan yaitu lima untuk membaca dan masing-masing enam untuk matematika dan sains.
Pengajaran bahasa dilakukan dalam rangka melahirkan pembelajaran-pembeljaran yang memahami bagaimana tugas belajar sehingga mereka secara mandiri dapat belajar secara baik. Menurut Harmer (1998)pembelajaran mahasiswa bukan pekerjaan mudah, babnyak kesulitan yang ditemukan pembelajar, baik dipengaruhi bagaimana pengalaman belajar para siswa, bagaimana keberadaan mereka diruang kelas, bagaimana variasi metode yang digunakan ataupun menangani siswa yang berbeda. Dalam kelas klasika guru tidakl pernah mengidentifikasi keaiapan siswa (entery behavioring), dan siswa memilki tipe belajar yang berbeda (auditorial, visual, kinestetik). Untuk membedakan siswa yang baik atau tidak dapat dilihat bagaimana siswa mnegerjakan tugas disekolah. mengapa dioa mengerjakan tugas sementara temannya lainnya tidak, mengapa ada siswa yang sukses sementara teman yang lainnya tidak, apakah menyelesaikan tugas membuat perbedaan cara berfikir para siswa?
Tidak mudah menjadi seorang guru, bukan hanya mentranfer materi kepada peserta didiknya namun ada tugas yang lebih utama yakni membangun pribadi pembelajar yang memahami bagaiman dia harus belajar. Harmer (1998:10) menerjemahkan secara rinci karakter pembelajaran yang baik :
  1. Memiliki kemauan untuk mendengar
  2. Memilki kemauan  untuk mencoba
  3. Memiliki kemauan untuk bertanya
  4. Memilki kemauan untuk berfikir tentang cara belajar
  5. Kemauan untuk menerima perbaikan.
Ruang Kreatif Pengajaran Bahasa
Ruang kreatif akan memunculkan sikap beranibereksperimen dan tidak takut melakukan kesalahan.  

Kesan Membuat Blog


Assalammualikum.......wr...wb...
Kesan membuat blog....? Ini awal saya membuat blog, sangat binggung sekali karena sebelumnya saya juga belum pernah membuat blog. Namun setelah mendapat bimbingan dari Dosen dan juga teman yang sudah membuat blog, saya mulai mencoba membuatnya dengan cara mengikuti langkah-langkah yang ada. Kesulitan yang saya rasakan terletak pada kode verifikasi yang tidak juga saya terima di handphone, saya menunggu beberapa menit tidak juga datang dan pada akhirnya saya mencoba mengganti nomer telponnya dengan nomer saya yang lain. dan akhirnya saya mendapatka kode verifikasi tersebut, rasa senang karena akhirnya saya dapat melanjutkan langkah pembuatan blog hingga pada akhirnya jadilah blog saya setelah saya mengisi lengkap data-data di blog. Suatu pengalaman yang sangat berkesan sekali bagi saya dalam proses pembuatan blog ini, ilmu baru bagi saya dan semoga kelak saya dapat mentranfsernya kepada mereka yang belum mengetahuinya cara membuat blog. Suatu harapan bagi saya, bukan hanya memiliki blog tapi juga dapat mengisi blog tersebut dengan sedikit goresan yang sangat berguna bagi saya dan juga orang lain.
Sedikit catatan diatas sebagai kesan saya membuat blog, dan menjadi awal coretan dalam blog saya. Terimakasih teman anda telah menyempatkan untuk membaca blog ini. wassalammualikum.....wr...wb